Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Mau review kendaraan yang ada? Silakan post disini...

Moderators: sh00t, akbarfit, avantgardebronze, Ryan Steele, r12qiSonH4ji

User avatar
AD74YA
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 9769
Joined: 13 Jun 2008, 02:51
Location: Pasar Minggu, Jakarta
Daily Vehicle: Toyota Alphard

Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by AD74YA »

Halo all, sekarang newbie mau review sebuah mobil pendatang baru yang kemunculannya cukup ditunggu oleh banyak orang. Khususnya di SM, review ini udah diminta oleh leluhur kita, mr. Nightster Gay, yang walaupun beliau masih hidup di era 70-an, tapi mobil modern yang bakal newbie review ini berhasil menarik perhatiannya. Dan, seperti biasa, entah kenapa tiba-tiba ada yang bawa ke garasi, ya sudah saya jajal saja... :mky_03:

Mobil yang akan saya review memiliki nama yang cukup panjang, mobil ini bernama lengkap: Mercedes-Benz W176 A250 Sport Engineered by AMG. And yes, seperti namanya, mobil ini juga memiliki spesifikasi yang complicated. Tapi agar lebih ngerti kenapa Mercedes bikin mobil seperti ini, saya mau sedikit cerita mengenai sejarahnya dulu.. Seperti biasa, tak kenal maka tak sayang..

SHORT STORY OF THE A-CLASS

A-class generasi pertama diluncurkan di awal tahun 1998 dengan kode W168 dengan membawa impian besar Mercedes Benz yang baru pertama kali main di segmen city car. Sebagai sebuah konsep, W168 merupakan mobil yang sangat menarik. Skema rangka bertajuk "sandwich body" merupakan breakthrough di sektor efisiensi dan keamanan. Sandwich body ini secara simpelnya adalah skema powertrain yang dapat di mount pada sedikit titik dengan posisi rendah di bagian depan-bawah mobil, sehingga dimensi mobil dapat di desain sangat kecil karena mesin tidak memakan ruangan dan didukung tambahan keamanan, karena saat frontal impact, desain rangkanya secara otomatis mendorong mesin jatuh ke bawah melewati underbody, sehingga mesin tidak akan mendesak ke kabin.

Lalu pada mobil ini juga Mercedes fokus kepada pengurangan bobot kendaraan dengan menggunakan material yang lebih ringan pada sektor eksterior dan interiornya, pilihan mesin yang beragam, ukuran dan gearbox semi-otomatis yang baru kali itu dipergunakan di Mercedes. It all sounds promising, sayangnya saat launching, W168 malah dikatakan pengamat otomotif sebagai produk Mercedes yang gagal dari awal diluncurkan.. Lho..? Kenapa?... :e-think:

Pertama dari sisi luxury, bahkan W168 tidak dianggap oleh fanboy sebagai Mercedes. NVH tinggi, dan kualitas fit and finish yang rendah. Kedua, masalah luxury ini diperparah oleh kinerja mesin, transmisi, dan suspensi yang tidak sinkron satu sama lain.

Kualitas rendah:
Image

Tapi masalah ketiga lah yang jadi faktor skakmat ketidak suksesan W168; safety. Dengan marketing yang bergantung pada sandwich scheme, Mercedes meng-klaim bahwa W168 adalah city car paling aman sepanjang sejarah. Sayangnya, saat W168 di test oleh lembaga independen Swedia, Teknikens Varld, untuk melakukan "Moose test" (test stabilitas dengan cara slalom di kecepatan tinggi) dalam waktu di bawah 30 detik A-class W168 nyaris terjungkal di tangan professional driver, membuat rating safety mobil ini menjadi salah satu yang terendah saat itu :big_chicken: .

Moose test:
Image

Hasilnya? Baru beberapa minggu setelah diluncurkan semua A-class di recall oleh Mercedes untuk pemasangan traction control dan sedikit reinforcement di bagian suspensi.

Hal lain yang menyebabkan A-class tidak populer adalah segmentasi pasarnya yang salah. Mercedes menyasar pasar terlalu luas, terutama orang-orang yang sebelumnya belum pernah memiliki merk ini (karena gak mampu), dan proses marketingnya membuat appeal ke anak mudanya sangat kurang. Tingkat "coolness" mobil ini dianggap rendah, dan pada akhirnya konsumen A-class hanyalah middle-aged. :e-wall:

Saya pribadi saat kuliah S1 dulu sering menggunakan A140 manual milik teman satu apartemen yang tinggal 1 lantai dibawah lantai saya. What I can tell in short is; A140 is the worst Mercedes I've ever driven until now. Well, probably one of the most "do not meet my lowest expectations" car ever in my experience, besides BMW X6 and Honda CRZ. :mrgreen: Mobilnya sempit, keras, mesinnya lemah, berisik, sangat understeer, dan terasa berat. Oya, dan kualitas interiornya sangat-sangat menyedihkan.

Jadi itulah heritage A-class. Not a good one, isn't it?

Tahun-tahun berikutnya setelah W168, Mecedes mencoba secara gradual untuk memperbaiki citra dan kualitas A-class, tapi karena masih menggunakan ramuan yang sama, A-class tidak pernah terlihat menarik di mata penggemar otomotif. Second generation A-class (W169) yang diluncurkan tahun 2004 pun masih kurang populer dan sangat berada di bawah bayang-bayang VW Golf, dan dimana Golf makin fokus ke fun factor, A-class fokus ke safety dan fitur penunjang. Sebut saja 10 airbag, TC, ESC, ABS, EBD, anti-roll support, anti whiplash, active damping, di padu dengan transmisi CVT dan dikemas dalam bentuk MPV. Mungkin menjadi jauh lebih baik ketimbang generasi pertamanya, lebih well-built, lebih besar, lebih nyaman..

Akan tetapi siapa orang yang mau beli A-class (kecuali yang ngincer lambang three-pointed star) kalau kelihatan impoten? Bahkan orang yang sensible saja akan lebih memilih Golf atau A3 ketimbang W169..... until now. :big_smoking:

The All New A-Class (W176) merupakan mobil yang bahkan dalam proses pembuatannya sempat membuat Mercedes Benz galau. Kenapa? Karena desain terbaru ini awalnya digadang-gadang sebagai eksperimen terakhir letter A untuk dapat merebut pangsa pasar city car/hatchback dari pesaingnya yang lain, dan jika gagal, maka akan di suspend letter ini, dan Mercedes akan fokus ke B-class. This car was the final oncall for A-class.

Tapi hebatnya Mercedes, engineer diberikan kebebasan untuk mengembangkan letter ini, tanpa batasan perimeter.. Dan jika engineer sudah diberikan kebebasan seperti ini, maka yang terjadi, terjadilah... :e-clap:

The All New A-class, bukan lah A-class.

Letter A Mercedes yang sebelumnya selalu dalam form fusion antara city car dan MPV berubah menjadi hatchback konvensional, termasuk ukurannya yang semakin melar. Selain itu yang tadinya merupakan mobil yang practical, simpel, understated dan nyaman, diubah menjadi mobil yang flashy, refined dan mengutamakan sportifitas. A hot-hatchback scheme in mind.

Engineer juga untuk pertama kalinya mengembangkan transmisi DSG khusus untuk mobil ini. Bahkan sistem gerak AWD juga disiapkan khusus untuk varian tertingginya, A45 (dan A250 AWD di beberapa belahan dunia).

Secara general, New A-class memiliki 3 kelas; A200 Urban, A250 Sport, dan A45 AMG. A200 digadang sebagai mobil paling sensible diantara yang lain (irit dan nyaman), sedang A45 adalah versi [cencored] dari A-class, bisa dilihat dari spesifikasinya saja sekilas mirip sekali dengan Mitsubishi Evo. Mobil yang akan saya review ini berada di kelas paling tengah-tengah; A250 Sport Engineered by AMG. Secara nalar, varian yang saya coba ini adalah sweet spot A-class baru karena bisa mengakomodir sensibilitas A200 Urban, dengan sedikit campuran beringasnya A45 AMG. I am a lucky guy, indeed. :big_smoking:

Let's get to the review.

EKSTERIOR

Image

It is a huge leap from its predecessor. New A-class jauh, jauh lebih cantik. Postur badan yang rendah dan lebar, lampu yang manis di depan dan belakang, velg 18 inch khas AMG design dengan ban Continental ContiSportContact profile tipis, dipadu dengan tarikan-tarikan garis yang sebenarnya buat saya terlalu complicated, mobil ini sangat enak di pandang mata. :e-dance: Adapun fitur utama yang membuat eksterior mobil ini begitu menarik adalah grill nya. Grill nya disebut Mercedes sebagai "diamond grille", sebuah grill yang terdiri dari ratusan panel chrome sebesar ujung paku payung yang sebenarnya dibagian belakangnya adalah cabang lis grill berwarna hitam legam. Indah karena grill nya terlihat seperti titik-titik chrome yang terkesan melayang tanpa ditahan oleh lis grill. Mungkin agak terlalu flashy untuk berapa orang, tapi untuk saya grill nya ini berhasil mengangkat kasta letter A ke level mewah. :e-clap:

Image

Walaupun begitu, bagian desain favorit saya adalah di bagian belakang.. Desainnya sebenarnya cukup konvensional, akan tetapi attention to detail di bagian belakang ini menimbulkan cohesive-ness yang membuat kesan kalau desainer mobil ini sudah bekerja sangat keras hingga fokus bahkan sampai ke buritan. :frm_salut: Lampu belakang merupakan LED yang jika menyala membentu huruf C, masih sangat cantik. Jika ada flaw dari desain A250 bagi saya pribadi adalah pada desain fascia, menurut saya desain airscoop bawahnya terlalu complicated, cenderung ke arah ricer, ditambah lis-lis merah yang jika berada di mobil dengan kelir putih sedikit banyak bisa menambah kesan ricer. Lampu depannya juga bukan selera saya terutama dalam keadaan menyala.. DRL nya.. ugh.. Too much bling for my liking.

Image

Selain itu, jika saya mundur sedikit agak jauh dari mobil ini, maka mobil ini terkesan terlalu besar, terlalu tinggi, dan terlalu lebar untuk dapat disebut hatchback. Bagaimana tidak? Panjang mobil ini saja 4,3 meter, dan faktanya mobil ini sama panjangnya dengan B-class :big_chicken: , dan walau ga banyak yang menyinggung tentang hal ini, new A-class sebenarnya bukan all-new platform karena engine dan chassis nya sharing langsung dengan B-class. Ukuran badan mobil ini melar 68 cm dari generasi pertamanya, dan 50 cm dari generasi keduanya.. Setelah seharian kumpul kebo dengan mobil ini, at the end of the day, eksterior mobil ini terasa biasa saja. Cantik, tapi secara proporsi badan entah kenapa terasa salah. Hal ini dibuktikan dengan agak susahnya mengambil angle mobil ini saat foto, terutama dari depan, karena jika angle nya salah, fix mobilnya kelihatan jelek.

INTERIOR

If you think that the most significant changes in A-class are on the exterior, then you'd be wrong.

Eksteriornya memang naik kasta 10x lipat ketimbang genesis-nya, akan tetapi interiornya naik kasta hingga 100x lipat. Sebut saja proper sport seats yang menggantikan kursi rata dan keras tanpa support, carbon fibre pattern di dashboard menggantikan cheap-ass fugly plastics di jamannya Chrysler, steering wheel ala AMG, dan leather layering dimana-mana. It is a huge leap forward.

Image

Duduk di kursinya, terasa sportif; tidak nyaman tapi supportif. Legroom depan besar, belakang pun begitu, walau rear seats nya tidak selapang duduk di Golf mkVII. Ornamen menarik bertebaran; seperti red stitching diatas black leather di jok, dashboard, dan steering wheel, perforated leather berpadu cantik dan tidak norak di kursi dan setir, speedometer dengan background dial silver anodized dan TFT berwarna di MID tengahnya yang terkesan mahal, dan grill aircon yang seakan di ambil langsung dari SL.

Image


Image

Dengan harga on the road 750 juta rupiah, wajar bila saya menuntut banyak terhadap kualitas dan desain interior, suatu keharusan mobil ini bisa membuat kita merasa spesial di dalamnya. Sayangnya.. Seluruh berita baik dari interior mobil ini sudah saya ceritakan diatas. Siap untuk berita buruknya? Here we go..

Image

Selain dash, setir dan jok, seluruh plastik di bagian mobil ini, terutama di konsol tengah, terasa murah. Teksturnya tidak mengesankan mahal dan terutama bunyinya yang kopong terasa serupa saat mengendarai Carens.. Except, this is not a Korean car. Carbon fibre-nya sangat terasa seperti stiker, karena memang sticker. Lalu kisi AC nya... Ada 3 di bagian tengah dashboard, salah satu design cue yang saya benci di mobil manapun karena terasa too much dan useless. Dan yang paling saya benci; LCD di bagian tengah dashboard benar-benar merusak flow desain secara keseluruhan.. Desainnya terkesan seperti tablet yang super jelek dan asal tempel di dash, terkesan sekali seperti afterthought. Nampaknya desainer interior Mercedes udah bikin clay model interior A-class, terus setelah selesai modelling kisi-kisi AC ketiga di tengah dash, baru kepikiran kalau ga ada indikator infotainment;

"Scheisse! Fick mich!!!"

Lalu tiba-tiba salah satu dari mereka merogoh kantong lab coat yang dipakai dan mendapatkan Samsung Galaxy Tab 7.0 disana, dan secepat kilat tablet itu di tempel di tengah dashboard sebelum supervisor-nya datang untuk check akhir clay model interior A-class.. And then it makes sense. Oya, layar infotainment-nya pun terkesan ringkih, seperti tidak ditempel dengan stand yang solid di tengah dash. :e-wall:

The hateful LCD:
Image

Lalu satu lagi, yang mungkin saya mulai nitpicking, adalah seatbelt warna merah yang ada di mobil ini. It is fine to find bright coloured seatbelts on Porsches or Lamborghinis because they are supercars.. They need to be celebrated, to be silly, to be ridiculous. But it is a different story in a hatchback. The heritage of a hot hatch is; it has to be understated and a thousand times more practical than a supercar, but at the same time it has to be able to tailgate one on the road. And I don't think that red seatbelt is an understatement. :shrug:

Image

Imagine if you are wearing a green t-shirt, a blue jeans, and there is this red seatbelt crossing your body while you are driving. It will be fine if you look exactly like Ryan Gosling, but if you are a typical Indonesian; 5-feet, no muscles, with a dark brown skin, I promise you that you'll look like a Christmas Gremlin driving a car. :ngacir: :ngacir: :ngacir:

Image

I hate to say this.. But.. Sitting here after driving it for a whole day the interior feels more and more.. un-special. It has a premium look, but it doesn't feel special. Satu hal yang bikin saya kaget adalah ketika saya merasa leather di mobil ini terasa agak jelek untuk standar Mercedes (standar Mercedes ya, bukan Avanza), eh ternyata memang cuman dikasih synthetic leather... 750 juta bok.. Dikasih synthetic.. Walaupun grade nya memang tinggi, tapi jadi terasa seperti dicurangi.

Feel akhir, terasa seperti Mercedes is trying too hard untuk bisa memasukkan semua elemen ke dalamnya, yang pada akhirnya sesuatu yang seharusnya bisa jadi classy malah jadi over-crowded. Attention to detail-nya kurang.. Semua serba desain, desain, dan desain.. It's OK kalau desainnya bisa memberikan experience yang special juga, paling tidak betul-betul ada karakter khusus yang membedakannya dengan line up Mercedes yang lain. Ambil contoh MINI Cooper, kualitas buatan buruk, jauh lebih buruk dari new A-class, tapi malah terasa sangat spesial karena karakter desainnya yang kuat, contoh; tombol power window cuma berupa pentil chrome kecil di tengah dash, layar 7 inch ditengah speedometer super besar di tengah dash yang jarum speedonya sendiri pergerakannya unik, dll dsb. It feels special. :e-pray:

A-class? Setir dari C-class, central dash dari C-class, speedo dari C-class, malahan C-class secara keseluruhan terasa lebih well-built karena plastik di konsol tengah new A-class terasa seperti mobil Jepangan. Dan dengan harga yang setara dengan C200 Avantgarde, yang lebih well-built, lebih akomodatif, dan kastanya lebih tinggi, kenapa harus milih A250 Sport???... :e-think:

OK! Enough with the interior, let's move forward to the performance, siapa tau pertanyaan diatas jadi ada jawabannya.. :big_smoking:

TEST DRIVE

Mobil ini memiliki spesifikasi seperti berikut: mesin 2000cc turbocharge (well, sebenernya hanya 1800cc tapi entah kenapa di semua brosur bilangnya 2000cc) bertenaga 350Nm/1500 RPM (yummy!) dan 200Hp, 7 speed DSG made by Mercedes himself, dan, karena memiliki batch "Engineered by AMG", mobil beruntung ini mendapatkan rem lebih besar dan berwarna merah (penting buat show off) dan juga up-rated suspension, menjadi lebih keras dan lebih rendah sekitar 1 cm dari A200. Bohong kalau saya bilang gak ngaceng waktu tau berhadapan dengan apa :mrgreen: ; potensial besar seperti itu dimasukkan ke dalam mobil yang bahkan lebih kecil ketimbang BMW M135i yang saat ini menjadi sedan/hatchback favorit saya, wow.. Akankah saya murtad? Let's see what's what..

Image

Masuk ke dalam mobil ini, terasa posisi duduk agak terlalu tinggi untuk mendapatkan kesan sportifnya, tapi bisa dimaklumi karena bonnetnya memang tinggi. Selain itu posisi duduknya juga agak far-right tidak terasa centered/driver focused, seakan mengingatkan kembali kita masih berada di mobil yang sensible.

Image

Mesin menderu dengan halus, khas mesin M270 Mercedes yang juga di pakai di B250, GLK250, C250, dan E250. Rencana test pertama yaitu test performa. Saya mengarahkan mobil ke bagian tengah komplek perumahan saya yang memang layak untuk sedikit menyiksa mobil; lokasi yang sama dipakai Madcat dkk untuk test Jaguar XJ tempo hari (walau mereka kurang ajar, ngetest mobil di belakang rumah saya gak pakai permisi.. grrr... :mad: ). Lokasi ini cukup ideal karena selain terdapat double line 3 jalur yang cukup panjang dengan aspal yang masih baru dan mulus, juga masih merupakan area terisolasi karena masih dibangun, sehingga tidak ada traffic ataupun makhluk hidup sama sekali.

Menu pertama test akselerasi; mobil diam sempurna, semua safety pendukung di matikan, pindah mode ke manual-sport, injak rem dan spool up hingga 2000 RPM, dan Boom! The car launches itself immediately! Tanpa wheelspin, tanpa torque-steer (padahal dengan torsi 350 Nm dan FWD)! Mobil melaju terus dan terus, sembari saya memindahkan gigi saat jarum RPM mendekati 5000. 0-100 ditempuh dalam waktu 7,5 detik atau beda 1 detik dari klaim Mercedes, which is very believeable. Dan seperti Peugeot 208 GTi, mobil meluncur dengan effortless, menandakan akselerasi 0-100 kpj itu hanya test kacangan saja untuk mobil ini. Mulai penasaran dengan potensi A250 apakah bisa mengimbangi 208 GTi, yang menurut saya saat ini merupakan hatchback dengan dinamisme terbaik, saya arahkan mobil ke area yang lebih teknikal sambil mematikan semua safety features pendukung.

THE PROS :
Saya kebut mobil dengan manner biasanya; semena-mena. Seperti dugaan, mobil merespon dengan baik sekali. Mesin memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan C250 yang pernah saya coba sebelumnya, A250 terasa lebih eager dan lebih immediate, kurva torsi terasa lebih halus menyebabkan lebih minim sentakan saat di geber, dan nafas tengah atasnya betul-betul berisi. :big_exellent: Mesinnya terasa lebih berisi ketimbang 208 GTi di putaran bawah, karena nyaris tanpa turbo lag, which is a good thing. Dan tenaganya terus-terusan tersedia bahkan sampai diatas 5500 RPM di gigi 5, titik dimana biasanya mesin small displacement berturbo udah ngap-ngapan. Sekali lagi mesin A250 Sport ini mengingatkan akan mesin Mitsubishi Evo karakteristiknya, walau turbo A250 nowhere near as fierce as the Evolution. Still too tame to be called a proper Evo competitor. :e-whistle:

Handling? Dengan segala safety support dimatikan, mobil saya ajak meliuk, menikung, dan u turn dengan kecepatan tinggi. The best thing about this car dynamic ability is the grip, because it felt limitless. Suspensi bekerja sama dengan rodanya mencengkeram ke aspal dengan sangat kuat, lebih kuat dari tempelan lem Alteco yang sudah kering di lantai keramik. Badan mobil terasa tidak mau membuang sama sekali. Di satu titik saya di kecepatan 80 kpj flick setir..

Image

Prak!!!

"Goddamnit!" umpat saya kaget karena bukannya mobil merespon dengan flamboyan dan sedikit skidding, malah darting dengan instan ke arah saya membelokkan setir, yaitu ke kiri, dan membuat kepala saya yang tidak siap terlempar ke kanan menghantam kaca. Ow kambing. :frm_bang_head:

Next; the brakes. Dengan tambahan AMG Tuning Kit (bigger discs and pots), the force is fierce! Mobil dapat berhenti dari kisaran 120 kpj ke diam total di bawah 4 detik. Brake feels is also good, very responsive, dan dipakai seharian pun tidak ada tanda-tanda fatigue atau berbunyi. Palingan hanya rem belakang yang jadi lengket waktu handbrake saat ditinggal sebentar untuk makan siang. Untuk pemakaian sehari-hari, mungkin rem nya agak terlalu responsif, akan tetapi karakternya sangat cocok untuk profile mobil secara keseluruhan. :e-clap:

The chassis is next in the line. Walaupun menggunakan basis yang persis sama dengan B-class, A-class mendapatkan treatment lebih terutama di bagian front-end nya, agar kuat membendung torsi 350 Nm yang tidur manis di bawah kap mesin diatas layout FWD. Hasilnya? Tidak terasa sama sekali ada twitching dari sasis-nya. Jika 208i, yang memiliki sasis sama baiknya, masih terasa sedikit bergoyang flamboyan, A250 Sport sama sekali anteng dan stabil. Terasa low-down, angry, and serious at the same time. :e-clap:

THE CONS:
The first and foremost, yang wajib saya sebutkan adalah steering feels mobil ini. A250, seperti kebanyakan mobil modern lainnya, menggunakan electric power-assisted steering yang sangat ringan dalam pemakaian biasa, dan bisa menjadi berat saat di abuse performanya. Dan memang harus diakui dengan weighting yang cukup responsive terhadap naik turunnya kecepatan, apalagi dipadu dengan setir ala AMG yang sangat-sangat nyaman dengan lingkar pas di genggaman tangan, steering terasa natural di kecepatan tinggi. Sayangnya, nyaris tidak ada feedback yang tawarkan dalam kecepatan manapun. Terasa agak ragu-ragu untuk menikung di kecepatan tinggi, karena seringkali bagian depannya terasa hilang terutama saat ada di ujung apex.

The second thing is the exhaust sound, or rather.. lack of it. Saat eco driving mobil terasa sangat tenang, dengan ambience NVH terasa seperti mobil keluarga, dibawa jalan agak kencang sedikit, masih sama, tidak ada noktah sportif sedikit pun dari mesin dan exhaust nya. Dan yang paling parah, saat di geber hingga batas maksimal tidak ada raungan indah yang bikin skrotum hangat. Raungan mesin ada, tapi terasa sangat kalem seperti berada di bawah lapis-lapisan peredam di bagian depan. Exhaust? Nihil. Lebih parah dari 208 GTi. Why Merc? Why??.. Kalian pasang oversize rims, suspensi sportif, aksen merah di air scoop dan extra fins diluar, bahkan kalian pasang seatbelt warna merah di mobil ini, tapi kenapa? Kenapa sangat plain? Kenapa mobil ini sangat sensible? Kenapa ada indikator ECO di mobil yang memiliki badge AMG? Why???.......... :frm_bang_head: :frm_bang_head:

This, again, a proof that Germans love satire. And I hated them for that. :mad:

But that is nothing, nothing at all as disturbing as the last one. And that is the transmission and safety support. Pertama, safety support di mobil ini gak bisa fully-off. Walaupun tertera bahwa ESP-nya off, saat mobil berada di ujung grip, tiba-tiba lampu hazard-nya blinking sendiri, dilanjutkan dengan hilangnya respon gas, dan rem roda bagian dalam terasa aktif. Seakan ada batasan kalau badan mobil ga boleh goyang sama sekali, dan pada akhirnya sasis tidak bisa diketahui batasan maksimalnya :off_no: . Kedua, dan yang menurut saya paling parah diantara semuanya, adalah transmisi dual-clucth Mercedes. 7G-DCT - namanya - 7 gear dual clutch transmission, mendapatkan upgrade besar di A250 agar dapat menyamai DSG Golf GTI. Dan memang terasa, saat initial test, upshift transmisi A250 sangat cepat. Shifting paling cepat yang pernah saya rasakan di semua Mercedes yang pernah saya coba, nyaris setara dengan smoothness DSG VW. Tapi, permasalahan muncul di bagian downshift-nya. Saat setting mobil dalam keadaan Sport mode, dan manual gear select, pasti kita berpikir kalau kita fully in control of the car. Tidak di A250. Jika saat mendekati tikungan dengan gear tinggi saya mau melakukan engine braking dengan menurunkan gear sekaligus revving up the engine supaya ga hilang tenaga, saya tidak akan dapat melakukannya. Mobil ini tidak bisa di downshift secara manual dalam keadaan seperti itu, oh no, A250 akan melakukan downshift jika A250 merasa sistemnya aman untuk melakukan downshift. What a [cencored] thing this is :frm_bang_head: . Oey, Mercedes! Saya menghabiskan uang 750 juta untuk mobil yang kamu jual, saya yang tau apa yang ingin saya lakukan di mobilnya, saya tau apa yang terbaik, kenapa kamu membatasi wewenang saya terhadap mobil ini?!! You make it feels like it was 2000 all over again, terasa seperti saat flappy pedal pertama kali keluar.

"The same or better than VW's DSG" you said, eh, Mercedes? You wish! Your tranny is even nothing compared to the superb 8-speed ZF Auto in BMW M135i, and you claimed it is on par with VW's DSG? Haha.. What a joke. :mky_05:

Biasanya saya akan mengakhiri review sampai disini, dan memberikan nilai rendah untuk mobil dengan karakter nggak jelas seperti ini. Tapi kemudian malaikat di sisi kanan saya berbisik;

"Stig, bagaimana kalau kamu salah menilai mobil ini? Bagaimana jika A250 bukan pure hot-hatch seperti M135i? Bagaimana kalau A250 lebih dekat ke TSI ketimbang GTI?"

Semilir angin yang berikutnya lewat membangunkan saya, membuat saya berpikir. Masuk akal juga. :e-think: Kalau menilik line up dengan embel-embel AMG di bagasinya, nggak pernah ada dalam sejarah mereka di desain untuk memutari sirkuit lebih kencang ketimbang rivalnya dari M-division, atau lebih baik handlingnya. AMG selalu menawarkan produk yang over-powered dan lebih tidak balanced ketimbang M-divison, tapi selalu memberikan suatu hal lain yang lebih, yaitu kemewahan, kenyamanan, dan praktikalitas. Dan A250 Sport ini, walaupun bukan produk AMG murni, tetapi sudah menggunakan tuning-kit dari divisi itu, dan bukan cuma untuk style saja.

Maybe, just maybe, A250 Sport Engineered by AMG ini didesain bukan untuk menyaingi Golf GTI dengan meliuk-liuk di tanjakan Puncak, melainkan untuk menyaingi Golf GTI di jalan tol Jagorawi saat jam 3 pagi, dengan style dan kenyamanan. Being a little bit of a GT car.

OK. Saya ajak owner yang bawa mobil ini ke garasi, bersama seorang rekan yang sedang dia pedekate-in untuk trip makan siang nasi Krawu di dekat Pelabuhan Gresik. Bertiga kita start dari daerah Mulyosari Surabaya, sedikit memutar ke arah Pelabuhan Perak untuk test jalan di paving block dan aspal bergelombang akibat seringnya dilewati truk kontainer, lalu masuk ke Tol Surabaya-Gresik yang terkenal sangat bergelombang, menuju ke jalan Veteran Gresik. Rute yang dilewati akan penuh dengan truk kontainer, sepeda motor, becak, melewati beberapa rel kereta api dan pasar, ditambah suhu yang paling panas seantero titik Surabaya, dan tentu saja, kualitas jalanan yang khas Indonesia; amburadul. Sangat layak untuk mengetes A250 Sport sebagai GT car. Apakah bisa mobil ini mengantar kita ke Gresik dengan aman, nyaman, dan penuh style?

Image

Oke, perjalanan dimulai. Saya menyetir, teman saya di kursi penumpang depan, dan gebetannya di belakang. Mobil saya setting dengan ESP-On, automatic mode, dalam mode Sport. Dan baru 2 kilo memasuki jalan Kenjeran, sudah terasa sesuatu; mobil ini terasa lebar untuk sebuah hatchback, terutama di keadaan macet. Walaupun lebar real-nya setara dengan Golf Mk.VI, akan tetapi posisi duduk yang agak far right membuat kesan mobil ini lebih panjang dan lebih lebar. Spionnya yang agak lebar pun tidak membantu saat mobil ini mulai dihimpit oleh truk box di lampu merah perempatan Suramadu. Diluar itu, mobil ini sangat menyenangkan untuk dipakai di dalam kota. Respon mesin dan traksinya yang luar biasa membuat meluncur dari lampu merah jadi some kind of an occasion. Begitu lampu countdown lampu merah mendekati 0, gas langsung di bejek dan wusssshhh...... A250 selalu jadi yang pertama sampai di perempatan berikutnya. :big_peace:

Banyaknya sepeda motor dan becak juga menjadi hiburan tersendiri. Ya, hiburan. Karena dengan A250, terasa nikmat sekali meliuk-liuk diantara motor-motor gila orang Madura, yang seringkali near miss dengan body A250. Ditemani dengan AC yang dingin, ditambah dengan sound system yang cukup baik, setir super-ringan, dan assistance bejubel (ESP take-over, 10 airbags, adaptive brakes, attention assist, hill hold) terasa sangat adem dan aman sekali berada di mobil ini. Feeling yang jarang diberikan oleh hot-hatches, karena di hothatch lain biasanya hal-hal seperti ini tersembuyi di balik layer-layer buas performa mobil. Di A250, semua assistance nya terasa sekali memantau pengendalian mobil 24/7, dan terasa siap take over kapan saja jika driver-nya meleng. Nampaknya penikmat Mercedes akan lebih concern hal-hal seperti ini daripada fun factor. Agak sayang, hatch bertorsi 350 Nm di setting seperti ini, akan tetapi ya.. Jadi agak merasa aman meminjamkan mobil ini ke istri tercinta.

Image

I hated it, to be honest, karena nyetir A250 pada akhirnya terasa seperti nyetir komputer. Too much processing. Tapi berhubung sebelumnya kita udah janji untuk review A250 dalam ranah GT car, hal ini bisa dimengerti. :frm_tumbright:

What about style? Easily said; it wins it. Kemanapun kita berhenti, entah buat isi bensin, atau beli es beras kencur siang-siang (belum puasa waktu itu), minimal saya memergoki ada 1 orang yang diam-diam ngambil foto mobil ini. Semuanya mulus dan masih muda, sayangnya semuanya cowok... :ngacir: :ngacir: :ngacir: Wajar sih, soalnya yang aware produk baru gini, apalagi di Surabaya, nampaknya cowok-cowok saja.

OK, so.. Mobil ini aman, dan stylish. Perfect mark then for A250 Sport? Eit, tunggu dulu... Kita masih belum bahas masalah kenyamanan, dan sayangnya, hal terakhir ini yang bikin A250 gak akan kelihatan di mata Golf GTI, bahkan M135i.

Bicara kenyamanan, saya test mobil ini ke arah Pelabuhan Perak, menuju Prapat Kurung untuk tembus ke jalan tol Surabaya Gresik. Jalan full paving block sepanjang 2 km yang menjadi makanan truk kontainer tiap hari. Seperti yang diduga, tidak ada bagian mulus sama sekali di jalan ini, di beberapa titik malahan gelombang "jebakan" paving block dengan mudah bisa membuat truk kontainer terjungkal. Dan mobil kinyis-kinyis 750 juta ini sedang berada di mulut jalannya.

Image

Image

"Siap?" tanya saya ke rekan saya yang lain,
......*hening*........

Tidak ada yang menjawab. Wajar, karena kita semua tau, di jalanan biasa saja suspensi A250 terasa sangat keras. Tapi karena di support oleh jok, berjalan di aspal mulus masih dalam taraf "agak manusiawi". Adapun kita beberapa kali melewati rel kereta api, semua isi kabin sampai terpental jika melewatinya agak cepat. Tapi bagaimana karakter asli suspensi A250? Akankan menjadi jawara di area test paving block yang jauh lebih menantang dari standar test MIRA ini? Let's see...

Mobil dijalankan diantara 60-80 kpj di jalan ini, dan apa yang terjadi?

*GUBRAK!* *GUBRAK!* *GUBRAK!* *PRANG!* *BRAK!* *BRAK!*

Mobil meloncat-loncat tidak terkendali. Botol Aqua berterbangan, dan semua kepala menghantam kaca mobil di sebelahnya! Naik mobil ini diatas paving block, serupa rasanya seperti rodeo diatas kuda liar. :big_chicken:

Mobil tidak lagi menyembunyikan jati diri aslinya. Suspensi AMG yang membuat mobil lebih rendah 1 cm ketimbang A200 membuat A250 seperti tidak memiliki travel suspensi lagi. Hal ini sudah terasa dari pertama kali saya test performa mobil ini. Hanya saya simpan sebagai surprise di akhir review, tentang betapa buruknya settingan damping Mercedes A250 Sport.

Touring bersama mobil ini, terasa seperti naik skateboard.. Well, engga juga sih sebenarnya, karena naik skateboard lebih nyaman. Mungkin lebih tepatnya seperti diseret langsung oleh kuda dengan tali terikat di leher kita, diatas aspal. Nah itu baru bisa secara tepat menggambarkan rasanya touring bareng mobil ini. It is even worse than CRZ and BMW X6. :frm_bang_head:

Need I say more?

Pada akhirnya begitu sampai di Gresik, kami bertiga tidak ada lagi yang selera makan nasi krawu, malahan kami cari soto madura karena membayangkan betapa nikmatnya kuah panas masuk ke perut setelah mabuk di perjalanan. :big_childish:


CONCLUSION


Mobil, sebagai sebuah entitas, pada nyatanya tidak pernah berkembang dari awal zaman keluarnya mobil komersial. Buktinya? Mudah. Nissan R34 masih bisa mengalahkan R35 di drag race dengan sedikit ulikan, Nissan Silvia masih jadi jawara drifting, dan walaupun sudah ada Enzo, 458, dan LaFerrari, tetap saja Ferrari yang paling diinginkan oleh semua orang adalah F40. It really says something, isn't it?

In terms of performance, perkembangan mobil tidak quantum leap dalam 99% kasus. Kecepatan? Nope. Handling? Nope. Braking? Nope. Semua yang ada di mobil masa kini, hanya merupakan fine tuning dari terknologi yang sudah ada dari 50 tahun yang lalu. It is. I promise you.

Lalu di bagian mana perkembangan teknologi mobil sebenarnya terjadi? Di 1 bagian; Refinement.

Gap body yang lebih tipis dan teratur, stitching yang lebih rapi, kulit yang lebih berkualitas, derajat travel suspensi, limited slip diff, peredaman noise, lampu LED yang lebih terang dan tahan lama, dan lain sebagainya. Faktanya, hanya di bagian itulah mobil passenger cars modern ini berkembang. Dan maaf, dibagian ini pula saya harus memberikan nilai buruk untuk Mercedes A250 Sport Engineered by AMG.

Sah-sah saja sebuah hot-hatch modern memiliki suspensi yang keras, asal kualitas damping nya baik. Sebut saja Golf GTI, MINI Cooper JCW, dan BMW M135i, semuanya memiliki suspensi yang keras, akan tetapi semakin di geber, terasa bahwa settingan suspensi yang mereka berikan mendukung penambahan performa yang mereka dapat. Malahan justru semakin kencang menggeber 3 mobil ini yang terasa adalah semakin mantap dan semakin nyaman. A250? Nope. Suspensi A250 Sport terasa seperti settingan anak SMP yang dapat SIM dengan nembak, dan biar mobilnya keren secara murah, ia menggunakan cara potong ulir per. And I am not kidding on this.

Belum lagi menyebutkan transmisi otomatisnya yang nggak mau di shift-down secara manual sebebas kita, terasa seperti paddleshift tahun 2000-an. Bahkan gearbox Golf TSI Mk.VII terasa miles better than A250's. Oya, belum lagi walaupun mobil ini keluar belakangan ketimbang Golf, akomodasi penumpang belakang dan bagasi masih kalah ketimbang Mk.VI. Dan satu lagi yang belum saya sebutkan, walau performance figure A250 terlihat wow, tetap saja 20 HP lebih rendah ketimbang GTI Mk.VII.

Image

So, what is the conclusion about A250 Sport? It has a fake carbon dash, low quality plastics in middle compartments, it isn't as fast nor as big as a GTI, it isn't comfortable, and it has a gearbox that comes from 15 years ago. Where is the refinement?

A waste of 750 million. Just go buy a Golf, please.


Stig Score
: 4 out of 10.


DISC : Experience may vary. Tolong jangan di telan mentah-mentah informasi yang Anda dapatkan dari tulisan saya. Mohon perbaiki jika saya ada kesalahan, dan mari kita diskusikan.
:thanks:

UPDATE :

As seen on page 3 on this thread:
AD74YA wrote:Sehubungan dengan banyaknya yang shock dengan review suspensi A250 Sport Engineered by AMG ini, jujur, saya jadi mempertanyakan feel yang saya rasakan ketika mengendarai mobil ini.

Apakah saya yang salah? Atau kah unit yang saya bawa yang mengalami permasalahan?

Masalahnya, unitnya tidak mungkin salah, karena baru 2 minggu keluar dari dealer, dan kilometer saja baru menunjukkan 900an. So, pastinya masih kinyis-kinyis. Nah, berarti kesalahan bisa jadi ada pada saya. Maka untuk mencari jawabannya saya lakukan research singkat ke majalah mobil yang "rada" independen dan profesional di luaran sana yang membahas tentang A250 dengan setup suspensi 11-12 dengan yang saya review.

It is quite a shocking result:

http://www.autocar.co.uk/car-review/mer ... class/ride
Autocar wrote:The A-class becomes firmer still in the A250 Engineered by AMG model, which sits below the A45 AMG at the top of the standard A-class range. The AMG suspension changes might make it handle even tidier, but the trade off in ride quality is such that this is a model best avoided.
Diatas kata Autocar, majalah yang terkenal tidak terlalu independen karena sering kepergok banyak titipan iklan, terutama dari Range Rover.

http://www.autoexpress.co.uk/mercedes/a ... amg-review
Auto Express wrote:However, it's completely let down by being so uncomfortable. We could live with the slow-witted gearbox if the ride wasn’t so painful.
Again, highlight di result nya adalah painful ride.. DAN gearbox... Kok persis sama yang saya rasain ya?.. :big_think:

http://www.carmagazine.co.uk/Drives/Sea ... AR-review/
Car Magazine UK wrote:The limiting factor of how fast you drive the A250 isn't the prodigious grip, nor a lack of appetite from the upgraded brakes. It's the super-stiff ride, exacerbated by tasty 18in alloys. With so little suspension travel available, you're deflected and bounced on the sort of back roads the grippy A250 should relish.
Car Magazine UK wrote:None of that makes this A250 a bad car, but it isn't our hot hatch of choice. For a dribble over £30k, the BMW M135i or a loaded Golf GTI are the best buys.
This one here is, honestly, very shocking for me. Karena entah kenapa ini review majalah dari review sampai verdict nya persisssss sama yang saya tulis. :big_chicken:

http://www.whatcar.com/car-reviews/merc ... mary/65474
WhatCar? wrote:Against The suspension is so firm that you'd need to be a masochist to enjoy it. The car is very pricey, too.
Again, and again. This time the highlights are; firm ride and price
-----------------------------------------------------------------------

Jujur, saya sangat kaget sekali melihat review majalah-majalah luar negeri diatas. Karena kebayang betapa baiknya kondisi jalan di negara luar sana saat mereka review A250 Sport by AMG ini, dan mereka masih protes masalah kerasnya suspensi, yang bikin patah tulang lah, gak ada travel lah, atau bahkan dibilang harus jadi masochist.

Kebayang nggak saya test touring ini mobil di jalanan Indonesia? :big_chicken:

Semoga bukan saya yang salah saat merasakan mobil ini...............................
Anda sudah TEST DRIVE belum?...
User avatar
ibar78
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 1292
Joined: 04 Aug 2007, 18:06
Location: mtg, jakarta
Daily Vehicle: toyota fans boys

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ibar78 »

nice review... :big_peace:
:popcorn:
User avatar
axala
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2160
Joined: 16 Dec 2013, 07:24
Location: Indonesia

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by axala »

:big_chicken: :big_chicken: :big_chicken: jadi waste of money ya modstig, ane pun dengan harga segitu mending ambil Cklass :upss:

Btw, nice review modstig,as usual


.....monitor mirip2 ipad begitu soon bakal muncul di mazda2 hazumi...:mky_03: dan konon sampe sini gadisunat

apakah ini harapan...ato bencana :ungg:
Pursuit of Perfection
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 12514
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ChZ »

nice review oom go... :mky_02:

jujur, habis baca ripiu om go... impresi ane terhadap A-Klasse ini berubah. Totally.

ane belum pernah naik A-klasse, belum pernah liat unitnya langsung di depan mata atau indepth.... cuma memandangi dari jauh mmg sangat cantik... dan terkesan lebih "lux" dibanding GTI atau M135i...

dan seriously, exhaust note nggak menggugah? buat apa dual tailpipes dan tampilan se-agresif itu :off_no:

dan buat apa bantingan se-harsh itu :frm_bang_head: not a good GT-Car, not good as a hot hatch.

salah satu mobil yang sepertinya akan masuk SM Crap of the Year 2014.... :upss:

as i guessed, GTI seharga 730jt berasa nggak uberpriced kalo kualitas A-Klasse mengerikan gini....
Last edited by ChZ on 11 Jul 2014, 17:30, edited 2 times in total.
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
walid_007
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3044
Joined: 30 Mar 2013, 07:52
Location: idn, 18 mdpl
Daily Vehicle: b48 1gd 4a9

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by walid_007 »

Aman terkendali
engine roaring!
User avatar
sukribo
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 547
Joined: 06 Sep 2013, 10:44
Location: Surabaya

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by sukribo »

Beeuugghhh repiu nya om stig bener2 bikin keringat dingin (bagi ownernya) :big_biglaugh:
Untung2 ane beli mobil yang udah di repiu sebelumnya :mky_01:
But .... what another marvelous review mod ! :big_exellent:
All hails the Stig Almighty ! :big_smoking:
**************
The only reason I'm giving it five stars is because I can't give it 14 - Clarkson
User avatar
madcat015
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 13579
Joined: 29 Nov 2012, 15:52
Location: Surabaya

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by madcat015 »

Ripiu yang sekali lagi membuat otak kecil ane bekerja ekstra keras memeras neuron demi neuron... Superb review as usual om helm... :mky_02: :mky_02: :mky_02:

Errr... A140 gen sebelumnya memang sampah. Meski di facelift pegimane caranya tetap jelek di mata ane. Fuglyyyyy! :big_slap:

Dan setelah membaca ripiu om go... impresi dan ekspektasi ane berubah total ke A250 W176 ini, jadi ga pengen TD. You summed it up real hard, om helm... Entah impresi om NG pegimane... *mumpung doi masih nebas hutan di Leste...* :ngacir:


Ada satu quote om helm yang begitu mengena:
"Kalau menilik line up dengan embel-embel AMG di bagasinya, nggak pernah ada dalam sejarah mereka di desain untuk memutari sirkuit lebih kencang ketimbang rivalnya dari M-division, atau lebih baik handlingnya. AMG selalu menawarkan produk yang over-powered dan lebih tidak balanced ketimbang M-divison, tapi selalu memberikan suatu hal lain yang lebih, yaitu kemewahan, kenyamanan, dan praktikalitas."
- om helm/stiggy -

Ane setuju... Sebuah BMW M5 F10 terasa begitu civilized... begitu proper, polite, meski suara V8 nya buas. Silahkan masuk ke C63, E63, CLS63, atau apapun yang berbau dua digit dari divisi setan Merc: Ze AMGs. Divisi skunk works Mercedes itu dengan segala kegilaannya akan membuat mobil yang terlihat biasa saja... tetapi mobil tersebut menyimpan golok di mana2 untuk kemudian mencoba membunuh pengemudinya... in style tentu saja... Setidaknya pengemudi nya mampus dalam mobil dengan price tag selangit.

Dan ane juga setuju dengan satirikal ala Jerman. Begitu melihat tombol Auto Start/Stop di CLS63 BrAMG teman ane, ane dan dia lgs ngakak... Come on, ECO mode on nuclear powered killer car? Pwah! overrated... :big_biglaugh: :big_biglaugh: :big_biglaugh:





===============

On another note... nubie minta ijin om helm untuk menggunakan jalan di belakang rumah om helm hari minggu ini. Kebetulan ada sesi penyiksaan mobil lagi... :mky_01: :mky_01: :mky_01:

Kalau jadi... :ngacir: :ngacir: :ngacir:
Obey the mahakitteh. :big_cat:
User avatar
F 272
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 4639
Joined: 29 Apr 2013, 13:12
Location: Kota Bogor
Daily Vehicle: ANF 2019
Contact:

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by F 272 »

Kereeeeeeeeeeenn Bro..
Ane dah liat A class ini sejak di MotorShow 2013 kmaren...
dan baru baca Ripiu nye udah mao setaon hehehe...

Mantap...
:big_peace: :big_peace:

Cuma terasa overprice yah..? :ngacir:
jason28
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 645
Joined: 31 Dec 2013, 11:38

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by jason28 »

Nice review om stig :mky_02:
ternyata lbh mending golf drpd ni a-class :ungg:
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 12514
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ChZ »

anyway, suka sama quotes om go yang ini...
AD74YA wrote:Mobil, sebagai sebuah entitas, pada nyatanya tidak pernah berkembang dari awal zaman keluarnya mobil komersial. Buktinya? Mudah. Nissan R34 masih bisa mengalahkan R35 di drag race dengan sedikit ulikan, Nissan Silvia masih jadi jawara drifting, dan walaupun sudah ada Enzo, 458, dan LaFerrari, tetap saja Ferrari yang paling diinginkan oleh semua orang adalah F40. It really says something, isn't it?
it's true... semua yang ada sekarang ini adalah refinement....


dan gimmick :upss:
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
User avatar
maskopat
Member of Mechanic Master
Member of Mechanic Master
Posts: 14388
Joined: 06 Nov 2008, 16:28
Location: in your heart

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by maskopat »

ini bukan AWD ya?
Dark Brownies with Cappuccino
Red and Gold
Lime Green
walid_007
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3044
Joined: 30 Mar 2013, 07:52
Location: idn, 18 mdpl
Daily Vehicle: b48 1gd 4a9

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by walid_007 »

Mod ad74ya , ane mau request repiew mobil boleh?


yang saya heran, ada aja orang yang mau beli mobil seperti ini,, sudah tau jalanan indonesia buruk, sudah tau toll di indonesia bergelombang , sudah tau, toll di indo penuh truk,.... kelihatan nya mobil ini tidak memberikan keasyikan mengemudi,,, hambar, kosmetik , dll dll


kita mengendalikan mobil

atau

mobil yang mengendalikan kita?

Jawaban nya yg terahir, bec its mer c
engine roaring!
User avatar
imingwahyudi
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2967
Joined: 30 Nov 2013, 22:30
Location: 万隆, 印度尼西亚

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by imingwahyudi »

Nice review om Stig :mky_02: :mky_02: :mky_02:

Humph, die A klasse :big_think:

750 bloody million for that kinda thing? :big_chicken:

250 mil for the bodywork, another 350 mil for drivetrain which sounds like a simpleton....and 50 million for a nailed iPad Mini? :big_biglaugh:

I'll get a second hand 1M instead :ungg:




...wait ini family hatch ya? :big_chicken:


:ungg: .........1M juga teteup :ngacir:
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 12514
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ChZ »

walid_007 wrote: yang saya heran, ada aja orang yang mau beli mobil seperti ini,, sudah tau jalanan indonesia buruk, sudah tau toll di indonesia bergelombang , sudah tau, toll di indo penuh truk,.... kelihatan nya mobil ini tidak memberikan keasyikan mengemudi,,, hambar, kosmetik , dll dll
preferensi tiap orang beli mobil beda-beda, oom. nggak bisa main pukul rata.

ada yang beli karena suka exteriornya. ada yang beli karena lambang merc nya. dst dst. statement yang kurang tepat kalo kita ngomong "kenapa orang mau beli mobil A padahal ga ada bagus-bagusnya?"

seperti Odyss RC1, ane hujat habis-habisan waktu ripiu. It's a total crap with 700millions IDR pricetag.

tapi apakah ane melarang orang beli? It's your choice. Go ahead kalo mmg suka dan punya saldo lebih di rekening buat dihibahkan ke diler Ahond. Ane menghargai keputusan setiap orang beli mobil, seburuk apapun mobil itu di mata ane.
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
mbah_sby
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 288
Joined: 04 Jun 2013, 11:50

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by mbah_sby »

Well.. i can only its nice review..
Ane yg ga paham mobil ini hanya mencoba menikmati tulisan demi tulisan review ini..
Kalo ane yg disodori nih mobil akan cuma bilang: wah exterior nyaa cakep n sporty, interior bagus tapi harganya mahal yaaa...
Soal kualitas dan feel mobil, terus terang ane ga paham wkkkk...
hariy
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2269
Joined: 08 Sep 2013, 08:03
Location: 06º 35' 42" LS 110º 40' 18" BT

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by hariy »

Ahhh...nice review, mod helem puteh.... :big_exellent:
inget A140 sang pendahulu, inget betapa kasiannya iklan mobkas mercy yg satu itu di suatu iklan baris...salah satu kata2nya : A140 mirip dg Jazz (GD3)...kwkwkwk...
btw, itu kisi2 AC nya mengingatkan saya pada komik fiksi....eeehh, X-calibur yah? atau sebelumnya yg pake logo X itu ?
User avatar
WongZo
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2083
Joined: 17 Dec 2013, 22:06
Location: Bandung

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by WongZo »

Nice review mod helm :big_exellent: , skrng memang A-class ga terlihat murahan tpi hrga 750jt mahal juga yh, klw sekitar 600jt an sih sangat oke banget buat ukuran hatch kyk gini :big_smile] .
User avatar
grandis_GT
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1549
Joined: 26 Aug 2012, 19:36
Location: Riau
Contact:

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by grandis_GT »

weww , review yg luar biasa om , gak nyangka scorenya cuma dapat 4 , padahal ane kira masih dapat 7 :big_biglaugh:
The Art of Luxury
User avatar
AD74YA
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 9769
Joined: 13 Jun 2008, 02:51
Location: Pasar Minggu, Jakarta
Daily Vehicle: Toyota Alphard

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by AD74YA »

ibar78 wrote:nice review... :big_peace:
Thanks oom
axala wrote::big_chicken: :big_chicken: :big_chicken: jadi waste of money ya modstig, ane pun dengan harga segitu mending ambil Cklass :upss:

Btw, nice review modstig,as usual


.....monitor mirip2 ipad begitu soon bakal muncul di mazda2 hazumi...:mky_03: dan konon sampe sini gadisunat

apakah ini harapan...ato bencana :ungg:
Ya lah... Dihargai sama dengan C200 Avantgarde, dengan kualitas buatan dibawahnya.. Yang beli A250 ini nggak mungkin segmen Merc biasanya; middle-aged. Yang beli pasti anak-anak muda yang spoiled atau eksekutif muda dibawah 30-an yang memang suka hot hatch. Dengan tag 750 juta, buset dah.. Mikir 2x juga kali kalau mau beliin hatchback buat anaknya padahal bisa dapat C-class.

Monitor nempel di dash nggak selamanya buruk oom. Contoh di F30, itu desain monitor malah melengkapi desain dash secara keseluruhan. Terasa cohesive. Sedang di A-class tidak seperti itu.. Beneran terkesan asal tempel, dan somehow ukurannya nggak tepat, agak kegedean. Misalkan itu layar dilepas, atau diganti dengan motorized layaknya A6, saya yakin akan terlihat lebih bagus.

Mazda2, semoga saja cohesive.
ChZ wrote:nice review oom go... :mky_02:

jujur, habis baca ripiu om go... impresi ane terhadap A-Klasse ini berubah. Totally.

ane belum pernah naik A-klasse, belum pernah liat unitnya langsung di depan mata atau indepth.... cuma memandangi dari jauh mmg sangat cantik... dan terkesan lebih "lux" dibanding GTI atau M135i...

dan seriously, exhaust note nggak menggugah? buat apa dual tailpipes dan tampilan se-agresif itu :off_no:

dan buat apa bantingan se-harsh itu :frm_bang_head: not a good GT-Car, not good as a hot hatch.

salah satu mobil yang sepertinya akan masuk SM Crap of the Year 2014.... :upss:

as i guessed, GTI seharga 730jt berasa nggak uberpriced kalo kualitas A-Klasse mengerikan gini....
Oya lupa disclaimer; experience may vary.

Sekali lagi, jangan percaya sama Saya. Wong saya sukanya ngasal ae asal nyeplos... Uwkwkw.. :upss:

Exhaust sama sekali silent. Dan yes, di bagian suspensi saya juga aneh. Frankly, A250 memiliki salah satu sasis terbaik di hatch yang pernah saya coba, dan dengan sasis seperti ini, sangat tidak diperlukan suspensi yang keras. What were they thinking of?....

Inilah penyakit Merc, mereka terlalu terkungkung terhadap persaingan dengan BMW dan Audi. Suspensi keras seperti ini juga karena mereka pasti setting-up A-class di Nurburgring, mengikuti jejak BMW. CMIIW.
walid_007 wrote:Aman terkendali
Aman gan
sukribo wrote:Beeuugghhh repiu nya om stig bener2 bikin keringat dingin (bagi ownernya) :big_biglaugh:
Untung2 ane beli mobil yang udah di repiu sebelumnya :mky_01:
But .... what another marvelous review mod ! :big_exellent:
All hails the Stig Almighty ! :big_smoking:
Sekali lagi, disclaimer; experience may vary...

Dan ane orangnya ngasal... Please jangan dipercaya :upss:

Oya, funny story, temen ane ini berasal dari keluarga yang konservatif mengenai mobil Jerman. Persis seperti salah seorang member disini, menurut bokapnya nggak ada merk Eropa yang lebih bagus dari Mercedes. Sampai akhirnya sedikit banyak kita diskusi, ane tunjukan sedikit pembahasan di Serayamotor, dan ane tunjukin dimana letak ketidak-sukaan ane dengan A250 dia, and for the icing on top of the cake, saya ajak dia waktu jajal 695 Maserati Tributo yang memiliki harga 11-12 dengan A250 Sport.

Image

Berikutnya, seperti yang bisa diduga, dengan semakin open minded-nya dia, makin ilfil dengan A250 yang dia miliki.. Malahan kapan hari sempet nanya sama ane perihal M235i yang sudah beredar di Indonesia.... :upss:
madcat015 wrote:Ripiu yang sekali lagi membuat otak kecil ane bekerja ekstra keras memeras neuron demi neuron... Superb review as usual om helm... :mky_02: :mky_02: :mky_02:

Errr... A140 gen sebelumnya memang sampah. Meski di facelift pegimane caranya tetap jelek di mata ane. Fuglyyyyy! :big_slap:

Dan setelah membaca ripiu om go... impresi dan ekspektasi ane berubah total ke A250 W176 ini, jadi ga pengen TD. You summed it up real hard, om helm... Entah impresi om NG pegimane... *mumpung doi masih nebas hutan di Leste...* :ngacir:


===============

On another note... nubie minta ijin om helm untuk menggunakan jalan di belakang rumah om helm hari minggu ini. Kebetulan ada sesi penyiksaan mobil lagi... :mky_01: :mky_01: :mky_01:

Kalau jadi... :ngacir: :ngacir: :ngacir:
Thanks oom.. Disclaimer sekali lagi.. Experience may vary ya...

TD aja lagi oom..

=====

Masih gak sopan. TD saat ane pergi keluar Surabaya :mad:

:ngacir: :ngacir:
F 272 wrote:Kereeeeeeeeeeenn Bro..
Ane dah liat A class ini sejak di MotorShow 2013 kmaren...
dan baru baca Ripiu nye udah mao setaon hehehe...

Mantap...
:big_peace: :big_peace:

Cuma terasa overprice yah..? :ngacir:
Bukan terasa lagi, tapi sangat. :upss:
jason28 wrote:Nice review om stig :mky_02:
ternyata lbh mending golf drpd ni a-class :ungg:
Thank oom, dan yuupp...

Tapi mendingan beli M135i 2013 kalau mampu ambil A250. Secara diskon M135i gila-gilaan tuh sampai cuman beda 40-50 jutaan sama A250.
ChZ wrote:anyway, suka sama quotes om go yang ini...
AD74YA wrote:Mobil, sebagai sebuah entitas, pada nyatanya tidak pernah berkembang dari awal zaman keluarnya mobil komersial. Buktinya? Mudah. Nissan R34 masih bisa mengalahkan R35 di drag race dengan sedikit ulikan, Nissan Silvia masih jadi jawara drifting, dan walaupun sudah ada Enzo, 458, dan LaFerrari, tetap saja Ferrari yang paling diinginkan oleh semua orang adalah F40. It really says something, isn't it?
it's true... semua yang ada sekarang ini adalah refinement....


dan gimmick :upss:
Fact.
maskopat wrote:ini bukan AWD ya?
Yang masuk sini 4Matic cuman A45 oom kopat. :ungg:
walid_007 wrote:Mod ad74ya , ane mau request repiew mobil boleh?


yang saya heran, ada aja orang yang mau beli mobil seperti ini,, sudah tau jalanan indonesia buruk, sudah tau toll di indonesia bergelombang , sudah tau, toll di indo penuh truk,.... kelihatan nya mobil ini tidak memberikan keasyikan mengemudi,,, hambar, kosmetik , dll dll


kita mengendalikan mobil

atau

mobil yang mengendalikan kita?

Jawaban nya yg terahir, bec its mer c
Boleh rikues saaja, semoga ada yang bawa ke rumah. :mrgreen:

Ugly truth, tapi bener. Yang beli A250 biasanya memang yang biasa ambil Mercedes, atau belum pernah punya, lalu paling mampu ambil A class. Gak usah jauh-jauh, di SM juga ada yang cuman kepentok sama merk ini ae kalau Jermanan :upss:
imingwahyudi wrote: :ungg: .........1M juga teteup :ngacir:
Will never be wrong with real M-badges.
mbah_sby wrote:Well.. i can only its nice review..
Ane yg ga paham mobil ini hanya mencoba menikmati tulisan demi tulisan review ini..
Kalo ane yg disodori nih mobil akan cuma bilang: wah exterior nyaa cakep n sporty, interior bagus tapi harganya mahal yaaa...
Soal kualitas dan feel mobil, terus terang ane ga paham wkkkk...
Sejujurnya ane juga gak paham oom.. Asal ngoceh aja di review.. Uwkwkw..

Jangan di telan mentah2 oom,.. :upss:
hariy wrote:Ahhh...nice review, mod helem puteh.... :big_exellent:
inget A140 sang pendahulu, inget betapa kasiannya iklan mobkas mercy yg satu itu di suatu iklan baris...salah satu kata2nya : A140 mirip dg Jazz (GD3)...kwkwkwk...
btw, itu kisi2 AC nya mengingatkan saya pada komik fiksi....eeehh, X-calibur yah? atau sebelumnya yg pake logo X itu ?
Xvideos...? :ngacir: :ngacir: :ngacir:
WongZo wrote:Nice review mod helm :big_exellent: , skrng memang A-class ga terlihat murahan tpi hrga 750jt mahal juga yh, klw sekitar 600jt an sih sangat oke banget buat ukuran hatch kyk gini :big_smile] .
Tepat sekali oom.

750, terlalu banyak substitusinya; the perfect all-rounder GTI Mk7, the superb Pug 208 GTi, the amazing M135i, or the new MINI Cooper S.

Dan kalau ane punya uang segitu, A250 sama sekali gak akan masuk perhitungan.

Sorry to say that. :big_sorry:
grandis_GT wrote:weww , review yg luar biasa om , gak nyangka scorenya cuma dapat 4 , padahal ane kira masih dapat 7 :big_biglaugh:
Tadinya mau ngasih 2 oom, tapi inget ini mobil rodanya ada 4, masa dikasih skor lebih rendah?... :upss:

:ngacir: :ngacir: :ngacir:
Anda sudah TEST DRIVE belum?...
User avatar
sandal
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3614
Joined: 03 Jul 2014, 08:13

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by sandal »

Nice review om!!!
Tp sayangnya overprice jadi nunggu harga secondnya aja :mky_01:
Last edited by sandal on 11 Jul 2014, 22:42, edited 1 time in total.
2017 Ignis

2021 HRV SE Improvement
User avatar
Mastermax
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 257
Joined: 22 Aug 2013, 00:22

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by Mastermax »

As usual, nice repiuw om. Ga nyangka di paving block suspensi ajrut-ajurutan bin abrug-abrugan.... :big_chicken:
Mendingan xeniah/apanjah/gmax kantor ane yak...ajrut-ajrutan nya top markotop...
(*what..? kelas 100an dibanding class 700 san... :ngacir: :ngacir:
User avatar
AD74YA
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 9769
Joined: 13 Jun 2008, 02:51
Location: Pasar Minggu, Jakarta
Daily Vehicle: Toyota Alphard

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by AD74YA »

sandal wrote:Nice review om!!!
Tp sayangnya overprice jadi nunggu harga secondnya aja :mky_01:
Tapi semua mobil overpriced sih... VW GTI aja lewat 700 jutaan.. :big_childish:
Mastermax wrote:As usual, nice repiuw om. Ga nyangka di paving block suspensi ajrut-ajurutan bin abrug-abrugan.... :big_chicken:
Mendingan xeniah/apanjah/gmax kantor ane yak...ajrut-ajrutan nya top markotop...
(*what..? kelas 100an dibanding class 700 san... :ngacir: :ngacir:
Faktanya di area yang ane lewati, naik A250 bisa jadi bikin lebih sakit badan ketimbang naik Avanza.
Anda sudah TEST DRIVE belum?...
montirangin
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 6271
Joined: 22 May 2014, 10:38

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by montirangin »

kacau balau harganya..ga worth it..perlu diskon at least 300jt untuk nik tahun sebelumnya next year.
ricz
New Member of Mechanic Master
New Member of Mechanic Master
Posts: 12195
Joined: 23 Jan 2013, 17:18
Location: Indonesia

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ricz »

Nais ripiu & nais share om gogo adjaya...

750 juta? Bwt hatch kyk gini?

Mending GTI MK7... Udah lebih nyaman (mnrt om gogo & paul tan dot kom) trus resale value kedepannya kurasa bakal lebi baik dr A250 ini krn ada peminat hobbyistnya...

Ato....ungg... Subby Impreza STi? :mky_03:
2011 C207
2013 RM3
2021 GUN165R
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 12514
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: Review Mercedes Benz A250 Sport Engineered by AMG 2014

Post by ChZ »

ricz wrote:Nais ripiu & nais share om gogo adjaya...

750 juta? Bwt hatch kyk gini?

Mending GTI MK7... Udah lebih nyaman (mnrt om gogo & paul tan dot kom) trus resale value kedepannya kurasa bakal lebi baik dr A250 ini krn ada peminat hobbyistnya...

Ato....ungg... Subby Impreza STi? :mky_03:
STi UK-Spec dapat masih kembalian 250jt :big_slap: UK-Spec NIK 2011 di 500an, 300hp, AWD, proper rally car :mky_03:

kalo chick magnet dan lebih civilized ride nya, F30 320d dapat.... jelas lebih appealing, dan torque setara 335i yang no play-play...

fix, kalo ada kolom "SM Crap of the Year", mungkin A250 ini ikutan masuk, disamping Odyss RC1, BMW X6, dan CR-Z :ngacir:
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
Post Reply